Senin, 08 Oktober 2012

GERAKAN ANTI KORUPSI



Kick Andy .
Analisis Sudut pandang Etika, Norma, dan Nilai.
Tema : Anti Korupsi

Bintang tamu : Kepala Sekolah SMA Kandius, Kudus Jawa Tengah
Upaya yang di lakukan yaitu sekolah tersebut mengajarkan pendidikan “Anti Korupsi” setiap hari Sabtu dengan memakai PIN ANTI KORUPSI.
Nilai-nilai yang di ajarkan adalah Kejujuran.  SMA Kandius ini mempunyai kegiatan yang sangat unik dalam menerapkan nilai kejujuran kepada seluruh siswa dan staff yang ada di sekolah tersebut.  Gerakan ini dimulai Sejak bulan Desember tahun 2005 dengan melakukan “gerakan anti mencontek”. Selain itu ada juga Warung Kejujuran, Telepon Umum Kejujuran, dan Ular Tangga Kejujuran.
Pada tanggal 19 Desember 2005 pihak sekolah mendeklarasikan upaya-upaya yang akan dilakukan untuk gerakan anti korupsi antara lain :
1.      Mengundang aparat-aparat hukum, LSM, dan Bupati
2.      Menggagas sebuah media

Dalam upaya tersebut dijelaskan tentang :
1.      Warung Kejujuran
Membuka warung kejujuran dilakukan secara mandiri diman diceritakan bahwa warung tersebut di ibaratkan sebuah Negara, yang manda di dalam nya terdapat transaksi pembelian secara tunai atau pun hutang (kas bon). Setiap siswa yang membeli barang di warung tersebut dapat membayar tunai maupun berupa bon. Mereka tidak di paksa untuk membayar hutangnya akan tetapi di ajarkan untuk “sadar akan kewajiban membayar hutang”.
Pada kenyataannya warung kejujuran banyak kehilangan barang, uang pun tidak ada. Pelajaran yang bisa di ambil dari kejadian ini adalah “ Jika banyak pencuri yang mengambil barang daari warung tersebut, maka  warung pun akan bangkrut. Begitu pula hal nya dengan suatu Negara  yang banyak mencuri uang rakyat, maka Negara tersebut akan hancur.

2.      Telepon Kejujuran
Apa arti dari “Telepon Kejujuran”  . Para guru membolehkan siswa dan siswi membawa Handphone ke sekolah akan tetapi selama proses bekajar mengajar harus dikumpulkan sampai jam sekolah selesai. Namun suatu hari ada kejadiaan salah satu handphone siswa hilang dan harganya pun terbilang mahal. Akhirnya pihak sekolah pun yang menanggung atas kejadian tersebut.  Pihak sekolah pun membuat strategi dengan menawarkan jasa telepon di sekolah berupa kartu GSM dan CDMA. Setiap siswa yang ingin menelpon memang tidak di pinta untuk membayar, akan tetapi sekali lagi sekolah tersebut mengajarkan “kesadaran akan kewajiban mmebayar”. Alhasil upaya tersebut malah membuat pulsa habis , uang pun tak ada.

3.      Permainan Ular Tangga Kejujuran
Apakah maksud dari permainan ini?
Permainan ini cara nya sama seperti ular tangga pada umumnya. Setiap ular berlomba-lomba mencapai angka yang tertinggi. Tapi jika sebelum sampai nilai yang tinggi tersebut, tetapi si ular mendapatkan tangga untuk turun, maka harus mundur. Permainan tersebut mengartikan bahwa siapa yang melakukan korupsi yang semakin lama semakin besar, dan suatu saat perbuatannya terbongkar, maka koruptor tersebut harus di jebloskan, diadili dan di basmi.

Ada suatu kisah dari seorang tukang becak yang mebuka tempat penjualan bensin di sebuah pinggiran jalan, Di tempat tersebut dituliskan di sebuah kain “Pom Kejujuran Menuju Surga”. Mengapa dan apa alasan kalimat tersebut di buat? Tukang becak tersebut menjual bensin tanpa ditunggui oleh siapapun disitu, jika ada yang membeli bensin maka silahkan ambil bensin yang di butuhkan dan dengan harapan orang tersebut sadar untuk membayar nya tanpa di pinta oleh si penjual. Hasil dan kenyataannya selama satu tahun pun nihil dan ia mengalami kerugian sekitar Rp 5.000.000 . akan tetapi si tukang becak tersebut tidak kapok dan tetap membuka warung pom bensin nya.
Dari kejadian ini dapat kita analisis bahwa “jika banyak yang tidak sadar untuk membayar kewajibannya dan banyak pencuri, maka akan berakibat kerugian, demikian hal nya jika di ibaratkan suatu Negara yang banyak pencuri atas uang rakyat dan hak-hak rakyat, maka Negara tersebut akan mengalami kehancuran”.

Ada satu kejadian lagi di sekolah Kandius dimana banyak siswa yang membawa kendaraan bermotor ke sekolah sehingga lapangan parker penuh. Maka Kepala Sekolah pun memberikan kebijakan kepada para siswa bahwa yang boleh membawa motor hanya yang sudah memilki SIM C. alhasil semua murid mempunyai SIM tersebut padahal umur mereka belum memenuhi ijin pengendara jika dalam norma-norma. Terlihat sekali disini ada peran orang tua yang mendukung keinginan sang anak untuk memiliki Surat Ijin mengemudi (SIM). Kejadian ini memiliki pesan moral agar para orang tua tidak mendukung memalsukan identitas sang anak hanya untuk sebuah SIM, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan misalnya kecelakaan.

Sebuah cerita unik dari Kepala Sekolah tentang perlombaan “banting buaya”.
Suatu hari dia pergi ke sebuah pasar malam di mana ada salah satu stan dagangan yang begitu ramai pengunjung. Si pedagang pun melakukan aksinya “banting buaya” begitu katanya. Maka Sang Kepala Sekolah mempunyai ide untuk menerapkan pelajaran anti korupsi dengan membeli boneka karet buaya tersebut yang akan dijadikan objek di sekolah. Kegiatan banting buaya mengartikan bahwa “ jika ada aparat hukum yang melanggar peraturan maka sudah seharusnya di banting (di basmi,di adili).


Setiap individu mempunyai cara tersendiri untuk melawan korupsi, seperti yang dilakukan oleh seorang pelajar yang mengekspresikan perlawanan korupsi melalui penciptaan sebuah games. Siswa laki-laki ini memang sudah gemar terhadap animasi computer sejak kelas 5 SD. Pada game hasil ciptaannya itu di perannkan oleh seekor tikus dan burung garuda. Tikus yang mengibaratkan sikap pengganggu, mencuri seperti para koruptor, sedangkan burung garuda sendiri di ibaratkan sebagai pelindung Negara agar tetap tertib.
Lain halnya dengan seorang wanita yang mengekpresikan aksi melawan korupsi melalui film pendek. Film tersebut menceritakan seorang lurah yang terlihat di mata masyarakat adalah sosok yang bijaksana. Kenyataan berbanding terbalik. Sang lurah dengan tuntutan hidup maka perlahan-lahan melakukan aksi korup nya dengan menerima sogokan dari para bangsawan, pengusaha, dan petinggi-petinggi Negara. Ada pula cerita seorang guru dan murid yang bekerja sama dalam membisniskan buku-buku sekolah untuk dijual kepada para siswa.
Betapa menyedihkan nya Negara ini jika korupsi itu tidak hanya dilakukan oleh pemerintahan, tetapi juga bagian kecil dari pemerintahan yaitu lingkungan masyarakat. Masih sangat kecil presentase orang-orang yang ingin berbuat jujur. Hal ini dapat terjadi karena faktor kondisi ekonomi, pendidikan agama, dan psikologi individu itu sendiri.

Ada satu kutipan di akhir acara ini yaitu “ Kebaikan Lahir dari Kebaikan Sebelumnya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar